Topik soal generasi millenials memang selalu menarik untuk dibahas, terutama soal karir mereka. Pasalnya, mereka yang lahir antara 1980-2000 ini sekarang jadi generasi berusia produktif. Mereka adalah professional muda, dengan karakteristik unik, menjadi pemicu gelombang perubahan di dunia.
Salah satunya adalah tren bekerja yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi millenials lebih menyukai pekerjaan dengan karakteristik sesuai kepribadiannya. Mereka punya sudut pandang sendiri soal tempat kerja ideal.aduq
Riset dari American Express menemukan kaum millennial menilai penting nilai perusahaan tempat dia bekerja. Apakah nilai tersebut cocok dengan nilai kehidupan yang mereka percayai atau tidak. Hal ini kemudian yang menentukan nyaman tidaknya mereka di perusahaan terebut.
Generasi millennial juga menyukai nilai kreativitas pada pekerjaan mereka. Melalui kreativitas, mereka merasa bisa menyalurkan identitasnya dan mereka akan senang jika bisa unjuk kebolehan mereka.bandarq
Sayangnya, mereka juga mudah bosan, cepat jenuh ketika harus melakukan pekerjaan yang sama terus menerus. Inginnya selalu mendapat tugas baru yang lebih menantang.
Makanya, perusahaan zaman now harus mampu memunculkan adrenalin karyawannya dalam mengejar target, sekaligus menciptakan gairah sebagai perusahaan yang fun saat bekerja.
Herdy Rosadi Harman, Chief Human Capital Officer (CHCO) PT Telkom Indonesia mengatakan, situasi tersebut hanya akan terjadi apabila budaya perusahaan sudah terbangun dengan baik.sakong
Menurutnya, adrenalin karyawan diperlukan karena kinerja perorangan tetap harus didorong dengan kuat, sehingga akan muncul potensi terbaik serta mimpi Telkom menjadi raja digital di regional. Sekalipun demikian, katanya, mengejar mimpi jangan pula menciptakan stress berlebihan bagi karyawan. Sebab, kondisi demikian bisa kontraproduktif, karyawan sakit dan atau malas bekerja.
Budaya perusahaan yang inovatif dengan lingkungan kerja yang dinamis dan kreatif, seperti yang diterapkan Telkom, diharapkan dapat meningkatkan kecintaan pegawai ke perusahaan.
"Perusahaan secara berkala juga melakukan survey untuk melihat tingkat kepuasan dan kenyamanan bekerja karyawannya, termasuk apakah implementasi budaya sebuah perusahaan digital mampu mendongkrak kinerja keuangan perusahaan & dampak positifnya ke pelanggan ? Impact-nya bagaimana? Hal ini akan membuat semua elemen berusaha berlomba-lomba merebut hati kustomer," katanya.
Menurut Herdy, pemikiran itu pula yang melandasi perusahaan membuat berbagai program aktivasi budaya seperti kompetisi "Finding Culture Heroes", momen apresiasi implementasi culture terbaik di unit kerja yang memberikan impact terbaik unutk pencapaian kinerja dan pengukuhan role model panutan terbaik.capsasusun
“Budaya perusahaan sebagai fondasi kokoh harus dibangun sebaik mungkin, karena sehebat apapun strategi bisnisnya, jika tak disertai pembangunan budaya dan sumber daya manusia-nya, maka tidak akan berjalan. Transformasi budaya juga harus selaras tujuan bisnis perusahaan yang tercermin dari performansi perusahaan," jelasnya.
Untuk terus mengasah kompetensi karyawan yang melayani pelanggan, ada perlombaan "Indihome Frontliner Competition" yang diikuti perwakilan frontliner terbaik dari 7 regional Telkom di seluruh Indonesia. Raihan yang dibukukan pemenang akan dijadikan standarisasi bagi 4000 frontliner lainnya untuk selalu memiliki mental juara, memberikan layanan di atas harapan pelanggan.
Telkom juga menyediakan beasiswa pendidikan akademis ke jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri, serta sertifikasi keahlian khusus yang diperlukan untuk menunjang pekerjaan.
Herdy menambahkan, tak banyak perusahaan yang mengalokasikan investasi cukup besar untuk pengembangan talentanya. Perusahaan telekomunikasi ini justru tidak pernah ragu untuk berinvestasi disumber daya manusianya. Telkom hadir sebagai satu-satunya perusahaan milik negara di Indonesia dengan program international exchange, yaitu program GTP (Global Talent Program) yang memungkinkan Great People belajar dan bekerja di berbagai perusahaan di luar negeri. Tahun 2017 Telkom memberangkatkan 25 karyawannya ke 11 negara: Amerika, China, India, Swedia, Australia, Afrika Selatan, Meksiko, dll untuk menyiapkan mereka menjadi world class talent dengan global mindset & jadi bagian global citizenship.poker
Demi mendukung kebutuhan proses kerja cepat, Telkom mengembangkan platform gerbang tunggal satu klik disebut Diarium. Dengan platform ini, karyawan bisa memasuki keberadaan daring, slip pembayran online, cuti online & manual pekerjaan. Semuanya bisa diakses dengan mudah. Ada juga sistem pengelolaan talent management terintegrasi bernama Ingenium untuk membantu karyawan Telkom merencanakan karir & pengembangan dirinya. Esperantum sebagai salah satu moda kerja kolaborasi di Telkom. Cognitium, platform Digital Learning, Employee Aspiration dan Helpdesk yang siap membantu dan memastikan setiap suara millenial selalu didengar.bandarpoker








